Untitled #7
Pada suatu hari yang sukar saya tetapkan musimnya, saya berangkat bersama tiga orang kawan menuju suatu tempat yang—sungguh aneh untuk diakui—tak begitu jelas pula bagi kami sendiri apa nama tempat itu. Adapun tujuan dari perjalanan kami, sekiranya boleh diringkas dengan satu kalimat, ialah hendak memperoleh suatu barang bagus yang konon tersimpan di dalam hutan. Apa benda itu sesungguhnya, dan mengapa ia menjadi demikian berharga di mata kami berempat, hingga kini pun aku tak dapat menjawabnya secara terperinci. Akan tetapi, demikianlah lazimnya logika mimpi: tujuan tidak selalu perlu dimengerti, asalkan langkah dapat terus dijalani. Kami berempat tiba di sebuah pertigaan jalan tanah, lalu turunlah kami dari jeep yang sejak tadi mengantarkan rombongan. Dari pertigaan itu, kami memilih jalur yang membawa kami masuk ke dalam hutan. Belum jauh kami melangkah, sampailah kami pada suatu desa kecil yang—uniknya—tak berpenghuni satu jiwa pun. Akan tetapi, perlu pula kucatat bahwa desa itu sa...